





|
Gambar 1. Siklus hidup jamur pangan (edible mushroom) |
|
Mengenal Jamur Pangan |
|
Oleh: Iwan Saskiawan
Jamur pangan atau dikenal dalam bahasa Inggris dengan edible mushrooms adalah sebutan untuk berbagai jenis jamur yang bisa dijadikan bahan makanan dan diperoleh dari panen hasil budidaya maupun dikumpulkan dari alam. Sejarah tentang penggunaan jamur sebagai bahan pangan sudah dikenal orang sejak jaman dahulu, Bangsa Mesir kuno sudah mengenal jamur pangan sebagai bahan makanan yang dipersembahkan untuk raja-raja. Selain itu bangsa Indian juga menggunakan jamur sebagai bahan untuk kegiatan keagamaan mereka. Dari sekitar sepuluh ribuan jamur yang ada di muka bumi ini hanya sekitar kurang dari 10% spesies yang dapat dimakan. Budidaya jamur juga mempunyai sejarah yang cukup panjang. Di Cina jamur shiitake yang nama ilmiahnya Lentinus edodes sudah dibudidayakan sejak 1000 tahun yang lalu. Menurut catatan, budidaya shiitake ditulis oleh Wu Sang Kuang di zaman Dinasti Song (960-1127) meskipun demikian orang di daratan China sudah memakan jamur ini sejak tahun 199. Di Indonesia, beberapa petani di pantai utara pulau Jawa sudah mulai membudidayakan jamur merang pada awal tahun 1970an sedangkan budi daya jamur kayu yang menggunakan serbuk gergaji sebagai media tanam baru mulai dilakukan pada awal tahun 1980an. Sebenarnya jamur pangan yang selama ini kita konsumsi adalah tubuh buah dari jamur yang merupakan salah satu fase dalam siklus hidupnya. Jamur yang menghasilkan tubuh buah biasanya termasuk dalam kelas Basidiomisetes atau disebut jamur tingkat tinggi. Tubuh buah yang berukuran makroskopis menghasilkan spora yang berfungsi sebagai biji seperti pada tumbuhan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa spora apabila berada ditempat yang sesuai akan membentuk miselium yang berupa benang-benang memanjang. Miselium ini akan tumbuh dan berkembang yang akhirnya akan membentuk tubuh buah apabila kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban dan cahaya mendukung (Gambar 1.). Dilihat dari cara memperoleh makanannya jamur dapat dibagi menjadi 3 golongan. Yang pertama adalah jamur mikoriza. Jenis jamur ini melakukan simbiosis mutualisma atau hidup bersama saling menguntungkan dengan akar tumbuhan. Jamur memperoleh makanannya dari tumbuhan inangnya, tetapi tumbuhan inang tersebut juga diuntungkan dengan kehadiran jamur mikoriza ini. Miselium yang hidup disekitar perakaran tanaman membantu penyerapan nutrien yang ada didalam tanah oleh akar tumbuhan. Salah satu jenis jamur yang dapat dimakan dari jamur mikroriza ini adalah matsutake (Tricholoma matsutake) (Gambar 2.). Di Jepang jamur ini biasanya di panen di daerah hutan pinus pada musim gugur dan harganya sangat mahal. Sampai saat ini para peneliti jamur di negara matahari terbit tersebut belum berhasil membudidayakannya. Yang ke dua, adalah jamur yang bersifat parasit. Jamur pangan jenis ini memperoleh nutrisi untuk hidupnya dari mahluk hidup lain,biasanya menempel pada tumbuhan yang masih hidup. Yang termasuk jenis jamur ini adalah jamur Armillaria yang banyak ditemukan di hutan di kawasan Michigan, Amerika Serikat. Selain itu jamur Ganoderma lebih dikenal dengan Ling Zhi dan sering dipakai untuk bahan baku obat traditional adalah parasit pada tanaman kelapa sawit. Yang ke tiga, adalah jamur yang bersifat saprofit. Jamur pangan jenis ini memperoleh nutrisi untuk hidupnya dari sisa-sisa mahluk hidup yang telah mati. Hampir semua jenis jamur pangan yang dibudidayakan seperti jamur tiram (Pleurotus), jamur kuping (Auricularia), jamur shiitake (Lentinus) dengan media tanam serbuk gergaji dan jamur merang (Vovariella), jamur kancing (Agaricus) dengan media tanam jerami padi adalah termasuk jenis jamur yang bersifat saprofit. Secara alami jamur jenis ini merupakan mahluk perombak yang menjaga keseimbangan senyawa organik (bahan yang berasal dari mahluk hidup) yang ada di muka bumi. Jamur saprofit menghasilkan enzim yaitu senyawa kimia yang dapat merombak senyawa dengan struktur yang lebih komplek menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna sebagai bahan makanannya. Pengetahuan tentang sifat-sifat jamur pangan di alam sangat diperlukan oleh petani jamur untuk mendukung kegiatan budidaya jamur. Sebagai contoh, karena sebagian besar jamur budidaya adalah jamur saprofit maka media tanam yang akan digunakan harus dikomposkan terlebih dahulu. Proses pengomposan adalah proses penguraian senyawa dengan struktur yang lebih komplek menjadi lebih sederhana sehingga media tanam tersebut sudah siap untuk pertumbuhan jamur pangan.
*) Penulis adalah pembudidaya jamur dan juga Ketua I (Teknologi Produksi) APJI |
|
SEKRETARIAT/REDAKSI Jl. Waru 3-W2, Pangkalanjati, Jakarta Selatan 12450 |
|
To contact us: |
|
Phone : (021) 7535752 Fax : (021) 7549477 E-mail : apji_imga@yahoo.com SMS : 0816807513 |